Setangkai Bunga di Kubangan Lumpur


Oleh : Muhammad Azami Ramadhan*
Ketika terjaga di tumpukan problema, merah legam mendera mendidih terasa, menuju perjuangan yang dimasa pertama, alihkan manusia dari gelap dunia.

Itulah senukil lirik nasyid yang menceritakan seorang pemuda yang memiliki idealisme kuat, “melek” dalam semua permasalah dan berbagai bidang, serta suatu yang sangat tangguh ketika berada dalam zona pragmatisme, ya itulah pemuda. . . , sosok yang sangat di kagumi dan menjadi panutan untuk semuanya, Rosululloh, itulah dia. Sangat mengelitik, ketikaa kita sebagai pemuda yang sudah bangga dengan lebil keislaman, dan tidak merasakan suatu perubahan yang sudah berbeda dan jauuh dari harapan, bahwa semua itu sudah ditorehkan dalam buku buku, dibisikan dalam setiap pertemuan, dikoar-koarkan oleh seorang pembicara, bahwa pemuda adalah agen perubahan, sebagai agen sosial kontrol, sebagai problem solving, sebagai sosok yang elit, sebagai pemilik idealisme yang kokoh, sebagai politikus extraparlementer yang handal, tapi semua itu perlahan luntur, seiring “pelacuran pelacuran” menemukan jalan yang sangat leluasa, masuk hingga ke akar-akar pemikiran, sikap, dan keyakinan, itulah distorsi kognitif, suatu penyimpangan pola fikir.

Ya itulah cerminan pemuda saat ini, mudah masuk akan bahasa bahasa pop, bahasa yang jauuh dari dunia mahasiswa, ter internalisasinya musik musik yang membuat mahasiswa lalai akan idealismenya, teracuni oleh lirik lirik yang merusak pikiran dalam tawaran tatanan dunia baru, fashion mulai mewabah dan menjadikan sebagai kebutuhan yang paling utama, serta makanan, yang tak kita sadari bahwa dibalik semua itu ada tujuanyna, melukai pikiran, melemahkan kesehatan dan memporak porandakan ekonomi kita. Itulah cerminan fakta empiris yang terjadi dan dialami oleh pemuda saat ini.

Bahwa dapat dikatan pemuda itu “merem” semuanya, akibatnya adalah pemuda cenderung memiliki self regulasi yang buruk, tidak memiliki kemampuan menyatukan diri dengan lingkungannya, dan tampak jelas patologisnya bahwa pemuda mengidap vicarious learning, kecemasan yang berlebihan ketika hanya mendengar pengalaman orang lain. Semua itu diperoleh dari proses belajar yang salah serta pola asuh yang kurang baik, sehingga mencetak individu yang inferior, agresi, pendiam, pencemas dll. Ini membuktikan bahwa pemaparan dari dunlock menemukan suatu kecocokan bahwa kepribadian seseorang terbentuk karena lingkungan, teori tabularasa, kepribadian dipengaruhi oleh lingkungan Maka dari itu dalam momentum sumpah pemuda ini kita sebagai mahasiswa yang masih melekat label “pemuda” mampu berfikir bijak dan bertindak cepat, dengan bergerak ala mahasiswa muslim. Yang mempu mempunyai suatu wadah dalam dirinya yaitu gerakan dakwah tauhid, adalah gerakan pembebasan manusia dari berbagai bentuk penghambaan terhadap materi, nalar, sesama manusia dan lainnya, serta mengembalikan pada tempat yang sesungguhnya: Allah swt, serta gerakan yang menyerukan deklarasi tata peradaban kemanusiaan yang berdasar pada nilai-nilai universal wahyu ketuhanan (Ilahiyyah) yang mewujudkan Islam sebagai rahmat semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Bahwa sebagai pemuda memiliki dan bergabung dalam komunitas yang memperbaiki diri serta mengajak dalam hal kebaikan. Lalu untuk pribadi seorang pemuda mampu menguatkan bahwa dirinya adalah sosok elite sosial independen, dan menegaskan bahwa pemuda adalah suatu politikus handal atas dasar idelisme yang berujung sebagai gerakan politik extraparlementer. Dan yang paling utama dari yang utama bahwa pemuda harus menjadikan ini sebagai pokok dalam kekuatan pribadi, yang mempertemukan nalar akal dan nalar wahyu pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara  berkesinambungan. suatu tauladan serta landasan dalam bergerak yaitu intelektual profetik, yang menjadikan keimanan (tauhid) yang kuat sebagai landasan dalam mempergunakan intelektualitasnya. Intelektualitas tersebut digunakan dalam rangka meningkatkan keimanan, bukan malah menimbulkan pemikiran – pemikiran yang merusak keimanan. Itulah beberapa solusi agar kita mampu mengobati penyakit wahn penyakit yang membawa kiota dalam cinta dunia dan takud mati.

*mahasiswa psikologi 2009,staf kaderisasi KAMMI UMM Raya (2011-2012)
Universitas Muhammadiyah malang

About KAMMI UMM Raya

By Dept. Humas

Posted on 17 November 2011, in Kolom Kader. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: