Kasih Ibu Tak Cukup Sehari


“Mbak bagaimana kita umat islam merayakan hari ibu? Dasarnya apa?  Apa hukumnya? Dan kenapa harus ada hari ibu?”

Pertanyaan di atas di ajukan oleh kader baru, yang dia adalah seorang akhwat  di salah satu wajihah  kampus UMM  kepada mbak-mbak yg akhwat. Dan ana pun  mendengar percakapan mereka di balik hijab dan sesekali ikut berpendapat, karna pada waktu itu kita habis breafing untuk suatu kegiatan. Dan dari situlah ana mencoba mencari dari berbagai sumber dan  menuliskannya, apa sih sebenernya hari ibu itu?

Saya yakin temen –temen  semua punya Facebook, coba deh lihat sejenak. Jika kemarin  temen-temen  pada tanggal 22 desember 2011 kebetulan membukanya, akan  status yang ada di sana berisi tentang pujian, penghargaan, apresiasi, dan segala hal lainnya kepada seorang ibu. Atau bahkan ada yang dapat sms tentang selamat hari ibu. Walaupun belum jadi ibu, tp insya Allah calon ibu amin…* sih Akhwat tersenyum tu..,^_^ namun yang paling aneh kalau Ikhwan juga dapat ucapan selamat hari ibu waduh… akan ada tanda tanya besar di situ hehehe…waduh kok jadi bahas ini, sudah kita kembali ke laptop! Eh…maksudnya pertanyaaan di atas. Oya  begitu juga di surat kabar, televisi dan media-media lainnya juga sama membahas tentang kemuliaan seorang ibu. 22 Desember memang dinobatkan menjadi Hari Ibu—seperti yang kita ketahui.

Pertanyaannya adalah kenapa tanggal 22 desember bisa di nobatkan sebagai hari Ibu? Nah mari kita coba lihat sejarah Hari Ibu di Indonesia. Menurut Wikipedia, Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuranyang sekarang berfungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional dan beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso. Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Peristiwa ini dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan gender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Kemudian penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu itu sendiri diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan Hari Ibu ke-25 pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate. Kemudian Presiden Soekarno menetapkannya melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Sedangkan di Negara-negara Eropa dan Timur Tengah Hari Ibu di kenal dengan nama Mother’s Day. menurut Wikipedia nama Mother’s Day mendapat pengaruh dari dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Maret. Di Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, peringatan Mother’s Day jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei karena pada tanggal itu pada tahun 1870 aktivis sosial Julia Ward Howe mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara.

Jadi di sini, Hari Ibu bisa jadi kedudukannya sama dengan Hari Valentine, April Mop, Tahun Baru Masehi, Hari Bumi dan hari-hari lainnya yang bermuara pada kepercayaan bangsa Yunani. Merayakannya sama saja dengan mengakui adanya kebiasaan-kebiasaan ritual itu.

Tidak ada yang salah dengan kemuliaan seorang Ibu. Islam, sejak keberadaannya dan sejak dibawa oleh Rasulullah, telah meletakkan posisi seorang ibu sangat tinggi. Ibu, ibu, ibu, baru kemudianlah seorang ayah, yang wajib dihormati oleh seorang anak, begitu hadist Rasulullah saw yang sudah terkenal. Pemuliaan kepada seorang ibu terjadi setiap waktu, bukan hanya satu hari saja.

Jika kita melihat dari sejarah Hari ibu di Indonesia, untuk saat sekarang ini telah mengalami pergeseran makna dari yang sebenarnya. Coba kita ingat kembali jauh sebelum tanggal 22 desember  di putuskan sebagai Hari Ibu, kiprah perempuan adalah dalam bidang pilitik untuk bangsa ini, bukan pada kiprah sangul dan dapur.

Kesadaran politik bagi perempuan pada waktu itu telah melahirkan Kongres I Perempuan Indonesia Yogyakarta pada 22 Desember 1928. Kongres yang di laksanakan tiap 22 Desember itu sampai   dengan 1943, sebenarnya adalah kongres yang menghasilkan keputusan-keputusan politik penting jauh dari hiruk pikuk segala macam stereotipe khas perempuan. Namun sekarang ini ketika tiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu yang muncul justru peneguhan image stereotipe perempuan. Pada tanggal itu selalu di adakan lomba memasak, memasang sanggul, memasak oleh para bapak, merangkai bunga, bahkan yang lebih parah lomba sepak bola bapak-bapak memakai daster dan segudang kegiatan lainnya yang jauh dari proses pengambilan keputusan politik Negara.

Nah sekarang kita lihat bagaimana hukum memperingati Hari Ibu. Menurut fatwa ulama Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin Rahimahullah. Berikut jawaban beliau: Sesungguhnya setiap perayaan yang menyelisihi perayaan-perayaan yang disyari’atkan adalah perayaan bid’ah yang tidak dikenal pada masa Salafush Shalih dan terkadang berasal dari kalangan non Islam, sehingga disamping bid’ah terdapat penyerupaan dengan gaya hidup musuh-musuh Allah Subhanahu Wata’ala. Perayaan-perayaan yang disyari’atkan dan dikenal dalam Islam adalah Idul Fithri, Idul Adha, Idul Usbu’ (hari Jum’at) dan tidak dikenal dalam Islam selain ketiga perayaan tersebut. Setiap pesta perayaan selain ketiga perayaan tersebut (Idul Fitri, Idul Adha, Hari Jum’at) maka sia-sia dan batal demi syari’at Allah, berdasarkan sabda Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam (yang artinya), “Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami, sesuatu yang bukan berasal darinya maka tertolak”. Yakni sia-sia dan tidak diterima disisi Allah Subhanahu Wata’ala, dan dalam lafadz yang lain, “Barangsiapa beramal tanpa ada tuntunan dari kami maka tertolak.”

Apabila telah jelas perkaranya maka tidak boleh mengadakan perayaan Hari Ibu seperti dalam pertanyaan di atas, tidak boleh pula menampakkan keceriaan dan kebahagiaan di hari tersebut layaknya perayaan sebuah hari raya seperti pemberian hadiah dan semisalnya. Wajib atas setiap muslim untuk merasa mulia dan bangga dengan agamanya dan mencukupkan diri di atas ketetapan Allah dan Rasul-Nya di dalam agama yang lurus yang telah diridhai Allah Subhanahu Wata’ala untuk hamba-hamba-Nya, maka tidak boleh seorang muslim menambah atau menguranginya. Seorang muslim seharusnya tidak ikut-ikutan, mengikuti setiap bunyi burung gagak. Tetapi haruslah membentuk kepribadiannya sesuai dengan ketentuan syari’at Allah Azza wa Jalla, sehingga menjadi ikutan, bukan sekedar menjadi pengikut, menjadi contoh bukan yang mencontoh. Karena syari’at Allah –alhamdulillah- adalah sempurna dilihat dari sisi manapun, sebagiaman firman Allah: “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridloi Islam itu menjadi agama bagimu” (QS. Al-Maidah: 3).

Nah itu tadi fatwa ulama, kalau dari ana sendiri hari ibu adalah setiap hari karna kasih Ibu sepanjang masa dan seperti fatwa ulama di atas kita dilarang memperingati hari raya selain hari yang tiga tadi yaitu Idul Fitri, Idul Adha dan Hari Jum’at. Dan juga karena  haknya seorang Ibu lebih besar dari pada sekedar disambut sehari dalam setahun. Bahkan seorang ibu mempunyai hak yang harus dilakukan oleh anak-anaknya, yaitu memelihara dan memperhatikannya serta menta’atinya dalam hal-hal yang tidak maksiat kepada Allah Azza wa Jalla disetiap waktu dan tempat serta mendoakan mereka ketika sudah tiada.

Wallahuallam bishoab…..

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya  jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”(QS.2:120)

 * Penulis :

ADI SURAHMAN

FEB/Akuntansi/2010

Staf Dept. Keuangan KAMMI UMM Raya 2011/2012

About KAMMI UMM Raya

By Dept. Humas

Posted on 22 November 2011, in Catatan "KAMMI UMM", Kolom Kader. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: